Tuesday, January 17, 2017

Bagaimana Cara Budidaya Ikan Gurame

Budidaya gurame cukup banyak penggemarnya, selain ikan gurame bernilai ekonomis tinggi karena gurame diminati oleh banyak para pecinta kuliner, dan dipesan oleh restoran atau rumah makan besar, gurame juga cukup mudah dibudidayakan.



Pengolahan Kolam Ikan Gurame
Pada dasarnya pengolahan kolam ikan gurame tidak jauh berbeda dengan pengolahan kolam budidadaya ikan nila dan lainnya. Secara garis besar bisa dilihat diantaranya adalah:
  • Keringkan kolam terlebih dahulu, kemudian lakukan pengapuran pada dasar kolam.
  • Kemudian tahapan selanjutnya adalah melakukan penggaraman dengan menggunakan garam grasak/atau garam berukuran besar secukupnya, ini ditukan untuk membasmi predator dan hama yang masih berkembang
  • Lakukan penggemburan lahan kolam dengan menggunakan cangkul, agar mempermudah aliri dengan air secukupnya hingga lahan kolam mecak-mecak.
  • Setelah itu lakukan pemupukan dengan menggunaka pupuk kompos, ini bertujuan agar tanah subur dan menjadi gembur serta banyak mengandung humus yang akan menyebabkan berkembangnya cacing serta biota kolam
  • Isi dengan air hingga penuh, namun dengan catatan benih ikan jangan langsung dimasukan
  • Biarkan selama 4-6 hari kolam tergenang agar proses penggemburan berlanjut.

Proses Pembenihan dan Pemasukan Benih Ikan Gurame
Sebelum melakukan proses pemasukan benih ikan kedalam kolam sebaiknya lakukan beberapa tahapan berikut ini:
  • Lakukan sortir ikan sewaktu membeli benih ikan, pilih benih ikan yang tidak cacat
  • Kemudian, lakukan perendaman ikan kedalam ember yang sebelumnya diisi terlebih dahulu dengan air yang berasal dari kolam baru yang akan ditempati ikan Gurame, lama rendaman bisa dilakukan selama 15-20 menit sebagai proses adaptasi benih ikan.
  • Masukan benih gurame kedalam kolam secara perlahan bersama air dalam ember tadi


Perawatan Ikan Gurame
Pada masa pertumbuhan, ikan gurame cukup rentan untuk itu perhatikan proses tersebut.
  • Lakukan pemberian pakan secara teratur pagi dan sore hari
  • Pakan bisa berupa pelet ikan gurame, dan pakan yang banyak mengandung protein
  • Berikan perangsang pertumbuhan ikan
  • Bisa menambahkan pakan tambahan alami dari dedaunan seperti kangkung dan sayuran-sayuran tak terpakai
  • Berikan pengobatan pembasmi jamur dan bakteri pada kolam

Panen Ikan Gurame

Panen ikan dilakukan dengan cara meriset permintaan pasar atau bakul ikan gurame.
Panen yang umum dilakukan pada usia 5-6 bulan
Biasanya ada juga permintaan ikan berukuran 25 cm, dan cukup banyak permintaannya, jangka waktu budidaya sekitar 2-3 tahunan. 

Demikian tadi bagaimana cara budidaya ikan gurame. Semoga artikel ini bisa membantu para petani ikan khusus nya petani ikan gurame.

Pemeliharaan tanaman Cabai Merah

Pemeliharaan tanaman Cabai Merah - Beberapa waktu lalu harga cabai meroket tajam. Di beberapa daerah bahkan harganya menebus diatas Rp 100 ribu per kilogram. Cabai merah merupakan komoditi bernilai ekonomis yang tinggi, namun harus dibarengi dengan pengetahuan yang tepat dalam menanam cabai merah ini, terutama dalam cara yang baik dalam budidaya, selain itu faktor penting lainnya adalah penentuan pasar.

Syarat Pertumbuhan Tanaman Cabai

Tanaman cabai pada dasarnya tanaman yang mudah tumbuh diberbagai daerah dan kondisi tanah seperti apapun namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Untuk itu sebelum menanam cabai alangkah baiknya petani mengetahui terlebih dahulu syarat tumbuh tanaman cabai ini. Diantaranya adalah:
  • Tanaman cabai harus ditanama pada tanah yang gembur dan subur, untuk itu lakukan pengolahan lahan dengan baik. 
  • Ph tanah harus berkisar  antara 6,5 - 6,8.
  • Ketersedian air sangat dipentingkan, karena tumbuhan ini sangat membutuhkan air, baik sebagai pelarut unsur ahra ataupun digunakan dalam proses fotosintesis dan proses respirasi.
  • Tanaman ini cocok ditanam pada daerah yang memiliki curah hujan yang cukup. artinya tidak berlebih dan tidak kurang.
Proses Penanaman Cabai Merah


Cara Menanam Cabai Merah 

1. Persiapan dan Pengolahan Lahan.
  • Siapkan lahan, kemudian lakukan proses pembajakan, hal ini bertujuan untuk menggemburkan tanah, sehingga proses pengolahan lahan selanjutnya bisa berjalan dengan baik.
  • Buat bedengan, sedangkan ukurannya bisa menggunakan lebar 100 hingga 120 cm. Kemudian tinggi bedengan berkisar antara 50 hingga 70 cm. Dan lebar parit bisa sekitar 40-50 cm.
  • Setelah lahan siap, kemudian lakukan pupuk dasar dengan pemberian pupuk kompos organik sebanyak 40-50 ton/ha dengan bertujuan untuk memenuhi unsur hara dalam tanah sebelum tanam. 
  • Penggunaan mulsa tidaklah diwajibkan, namun sangat disarankan

2. Persiapan Pembibitan Dan Penanaman
  • Buatlah media semai dengan komposisi 21 liter tanah dengan 10-15 pupuk kandang, gunakan polybag kecil sebagai wadah media, lakukan penyemaian pada media tersebut.
  • Pemeliharaan bibit dilakukan dengan membungka sungkup ditiap pagi jam 07.00 hingga jam 10.00, kemudian ditutup lagi hingga sore hari sekitar jam 15.00 hingga 17.00. Ketika bibit berumur 5 hari buka sungkup sepenuhnya.
  • Penyiraman dilakukan seminimal mungkin dan jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi, gunakan pestisida nabati untuk melakukan Pengendalian kemungkinan ada hama di umur muda itu. 
  • Pemindahan bibit semai ketika sudah keluar daun sejati sebanyak 4 helai, pindahkan secara hati-hati.
Pemeliharaan tanaman Cabai
  • Lakukan Penyulaman ; Penyulaman dilakukan hingga umur tanaman cabai mencapai 3 minggu, jangan lakukan penyulaman hingga terlalu tua, hal ini akan menyebabkan tanaman tidak sama atau tidak seragam. 
  • Pengikatan Tanaman : Hal ini bertujuan untuk memacu pertumbuhan vegetatif tanaman, agar tanaman kuat dan kekar ketika diterpa angin, selain itu ini juga dilakukan untuk menjaga kelembaban saat tanaman tumbuh dewasa. Dilakukan hingga cabang utama terbentuk yang ditandai dengan munculnya bunga pertama. 
  • Sanitasi Lahan : hal ini dilakukan dengan beberapa tahap, diantaranya adalah, pengendalian hama/gulma, melakukan pengendalian air ketika musim hujan tiba sehingga genangan air dapat dialirkan, ketika tanaman cabai terkena penyakit maka lakukan sanitasi dan kendalikan hama sedetil mungkin. 
  • Pengairan ; Pengairan diberikan secara teratur dan terukur, dengan dilakukan penggenangan atau pengeleban hanya seminggu sekali jika tidak adahujan. Dan yang perlu menjadi catatan penggenangan dilakukan hanya 1/3 dari dalamnya bedengan. 
Pemupukan Tanaman Cabai Susulan

1. Pupuk Akar

Dilakukan dengan cara pengocoran dengan beberapa aplikasi, diantaranya :
Umur 15 hari setelah tanam (HST) dengan menggunakan pupuk organik dengan dosis disesuaikan dengan jenis pupuk organik yang digunakan. Kemudian pupuk juga diberikan pada umur 46 hari setelah masa tanam dengan menggandakan dosis yang diberikkan pada tahap awal.
Dan setelah itu, pada umur 76 hari setelah masa tanam, dengan menambah dosis pupuk pada tahap kedua.

2. Pupuk Daun

Pupuk daun pada tanaman cabai bisa menggunakan POC atau pupuk organik cair, Pupuk ini langsung disemprotkan ke daun, Pupuk ini bertujuan untuk menyuburkan daun, dan mempermudah proses fotosintetis jika daun tanaman subur dan rindang.
Pengendalian Hama 

Pengendalian hama 
Dilakukan dengan cara PHT, yang paling penting adalah mengenali jenis Hama dan Penyakit yang terjadi pada tanaman, dan lakukan tindakan yang cepat dengan melakukan pengendalian terkontrol 

Proses pemanenan 
Tanamanam cabai merah sangat mudah sekali, namun yang harus diperhatikan adalah tanaman cabai bisa dilakukan pada saat tanaman berusia 90 hingga 120 hari setelah masa tanam. dan yang perlu diperhatikan adalah persentase masak tanaman atau cabai adalah berkisar antara 80-90 persen masak.

Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan sebuah konsep pengendalain hama yang terkendali yang aman dan tidak membahayakan tanaman serta makhluk hidup lainnya.
Sedangkan menurut beberapa ahli:

Menurut Endah & Abidin, 2002 : Pengendalian Hama Terpadu adalah konsep pengendalian hama dan penyakit tanaman yang aman bagi lingkungan dan makhluk hidup.

Menurut Juanda & Cahyono, 2005 : Pengendalian hama terpadu adalah pengendalian hama yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan unsur-unsur alami yang mampu mengendalikan hama agar tetap berada pada jumlah dibawah ambang batas yang merugikan.
Komponen PHT

Menurut beberapa ahli Komponen PHT adalah perpaduan dari cara pengendalian pengendalian kultur teknik, hayati, varietas yang tahan, fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, serta kimiawi (pestisida)


Namun jika menurut saya komponen dari PHT adalah sebagai berikut.

1. Penggunaan Varietas Unggul yang tahan hama dan penyakit
Pemilihan verietas yang tahan terhadap hama dan menyakit merupakan sebuah usaha dari pengendalian hama terpadu yang dilakukan pra tanam, ini sangat penting, bagaimanapun kelangsungan baik dan buruknya tanaman ditentukan juga dari pemilihan varietas yang unggul dan tahan.

2. Pengendalian Hama
Merupakan sebuah cara bagaimana petani melakukan pengendalian terhadap hama dan penyakit, bukan memberantas ataupun memusnahkan apalagi dengan cara penggunaan pestisida yang brutal, akan tetapi dilakukan pengontrolan teratur dan rutin sehingga bisa melakukan tindakan yang sesuai dengan kondisi hama penyakit yang ada.

3. Keseimbangan Ekosistem 
Pertimbangan keseimbangan ekosistem merupakan unsur hayati yang harus dilakukan dalam PHT, petani seharusnya mengkoordinir dan mengenali ekosistem sekitar dan mencukupi segala kebutuhannya untuk terus menjaga keseimbangan ekosistem.

Misalnya, jika tanah kurang subur karena kurangnya mikroorganisme dalam tanah maka petani harus memperhatikan kelangsungan hidup mikroorganisme dalam tanah tersebut.

4. Pemanfaatan bahan dan musuh alami.
Pemanfaatan Predator merupakan sebuah cara untuk mengurangi bahan-bahan kimia, selain itu, menurut saya, seharusnya petani melaksanakan konsep back to nature, termasuk dalam pengendalian hama dengan cara menggunakan pestisida nabati dan pupuk organik.

Cara Pembuatan Pupuk Kompos Organik

Pupuk Kompos merupakan pupuk organik yang terbuat dari bahan-bahan organik seperti jerami, dedaunan, dan kotoran hewan yang mengalami proses dekomposisi atau pelapukan terlebih dahulu. Cara Pembuatan pupuk organik sangat mudah dan bisa dilakukan sendiri dirumah. langsung aja siapkan bahan bahannya.

Bahan-bahan Pupuk Organik

Kotoran ternak. Sapi, kerbau, kambing dan domba (2 ton / 2000kg)
Jerami yang dicacah terlebih dahulu kurang lebih 5-10 cm. (secukupnya)
Arang Sekam (secukupnya), Sekam yang sudah dibakar namun tidak samapi menjadi abu. lihat proses pembuatan arang sekam
Air (20 liter)
EM4 (5 sendok makan)
Gula pasir (5 sendok makan)
Bubuk gergaji atau bisa juga dengan dedaunan dan bahan-bahan organik lainnya.

Alat-alat yang diperlukan

Sekop
Cangkul
Sarung tangan
karung goni

Cara Pembuatan Pupuk Kompos Organik
  1. Siapkan media pembuatan pupuk, ditempat yang sejuk tidak terkena matahari langsung dan tidak kena hujan jika terjadi hujan.
  2. Larutkan EM4 dan gula kedalam air. 
  3. Lapisan pertama, Campurkan Kotoran ternak dengan arang sekam kemudian aduk hingga merata, setelah itu taburkan dekomposer (EM4 dan gula yang sudah dilarutkan dalam air) tadi secukupnya aduk hingga merata.
  4. Lapisan Kedua Taburkan jerami, dedak, bubuk gergaji dan bahan-bahan organik lainnya hingga merata kemudian siramkan dekomoser tadi.
  5. Setelah itu tutup rapat tumpukan bahan-bahan tadi dengan rapih dengan menggunakan karung goni dan jerami.
  6. Hari Kedua aduk adonan tersebut hingga merata dan tutup kembali rapat-rapat.
  7. Lakukan monitoring setiap pagi dan sore, dengan cara memasukan tangan (dengan sarung tangan) jika tangan kita tidak kuat menahan panas adonan maka adonan belum siap dipakai. aduk setiap melakukan monitoring.
  8. Biasanya hari ke empat adonan sudah siap, cara menceknya masukan tangan anda jika bisa menahan panas adonan maka pupuk kompos organik siap dipakai. 
Demikian lah Cara Pembuatan Pupuk Kompos Organik, atau pupuk kompos organik. Semoga bermanfaat bagi kita semua khusus nya para petani.

Fungsi dan Cara Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC)

Pupuk Organik Cair atau disingkat dengan POC merupakan pupuk cair yang terbuat dari bahan-bahan organik, jenis nya dibuat sedemikian rupa sehingga cair, pupuk ini dibuat dengan proses tertentu. 

Fungsi dari pupuk organik cair adalah sebagai penyedia unsur hara, dan juga berfungsi sebagai pupuk pelengkap, selain itu pupuk organik cair juga bisa berfungsi sebagai pemelihara lingkungan sekitar tanaman yang dipupuk agar sehat dan terhindar dari zat kimia.

Berikut ini cara membuat pupuk organik cair:

Bahan-bahan : 

A. Limbah.

Air cucian beras atau air kelapa 20-30 liter
Air cucian daging 5 liter
Air cucian ikan 5 liter
Isi usus ternak 500 gram
Urine ternak 5 liter
beras sabut kelapa
kotoran ayam/kambing 4-5 kg
Tanah dari bawah pohon bambu 2 kg
Dedak halus 2 kg
Isi tembolok ayam/unggas 0,5 kg

B. Bukan Limbah

Alkohol 40% 500 cc
cuka 500 cc
gula merah 200 gram 
Mol (micro organisme local) 500 cc
daging buah gerenuk 2 kg
parudan rebung/bambu muda 2 kg 

C. Rempah-rempah

Jahe 100 gram 
laos 100 gram 
kencur 100 gram 
kunir 100 gram
bawang merah 100 gram 
bawang putih 100 gram 
bangle 100 gram 
Merica dan ketumbar 1 sendok teh
daun cengkeh dan sereh 50 gram 
Bahan-bahan diatas bisa berubah jenis ataupun takarannya disesuaikan dengan kebutuhan.

D. Alat-Alat: 

Blender untuk menghaluskan bahan-bahan
Drum plastik ukuran 50 -100 liter
alat pengaduk, plastik atau kayu
Ember 


Cara membuat Pupuk Cair Organik

Pada dasarnya pembuatan pupuk organik cair tidak berbeda dengan pembuatan pupuk organik biasa, yaitu penekanan pada fermentasi bahan-bahan organik, lihat pembuatan pupuk organik
  • Haluskan semua bahan.
  • larutkan gula merah kedalam air dan masukan Microorganisme local (mol) 
  • masukan semua bahan bahan yang ada kedalam drum plastik yang sudah disiapkan lalu aduk hingga merata dan tutup rapat dengan menggunakan karung, simpan ditempat yang teduh, aman dan tidak terkena sinar matahari secara langsung ataupun kehujanan.
  • Buka tutup drum setiap 24 jam sekali selama 3-5 menit kemudian aduk hingga rata, lakukan ini selama 15 hari.
  • Setelah itu hari berikutnya aduk setiap hari sampai hari ke 30.
  • Setelah itu pupuk sudah bisa digunakan, sebelumnya disaring terlebih dahulu, ampasnya bisa digunakan sebagai pupuk biasa, sedangkan cairannya bisa digunakan sebagai pupuk organik cair yang digunakan secara disiram ataupun disemprotkan ke tanaman.